Kamis, 05 November 2009

BAHASA OSING (BANYUWANGI)


Bahasa Osing

Bahasa Osing atau bahasa komunikasi bagi masyarakat Banyuwangi, kota yang terletak di ujung paling timur Pulau Jawa.... Hmmm coba baca dan simaklah ..Sebutan OSING sebenarnya berasal dari orang luar Banyuwangi (orang kulonan) terhadap kultur etnik Banyuwangi. Secara etimologis kata Osing dapat diartikan dengan kata ’TIDAK’ dalam Bahasa Indonesia atau ORA dalam Bahasa Jawa. Dalam konteks kebahasaan Pigeaud (1929) berpendapat bahwa, kata OSING bermakna ketertutupan penduduk asli Banyuwangi terhadap penduduk pendatang, atau dapat juga diartikan sebagai penolakan penduduk asli Banyuwangi dalam menerima dan hidup bersama dengan para pendatang dari luar Banyuwangi. Keterasingan yang disebabkan secara geografis Banyuwangi memang agak terisolasi, yaitu tertutup oleh pegunungan Ijen dan raung di sebelah utara, Selat Bali disebelah timur, dan Pesisir Selatan Pantai Selatan di sebelah selatan. Atau karena keterombang-ambingan keadaan yang tidak menentu saat itu. Adanya pengaruh peradaban feodalisme. Kerajaan-kerajaan di Jawa dan Bali, atau belakangan oleh Kompeni (VOC) Belanda. Keterasingan tersebut bukan hanya pada karakter Orang Osing, tapi juga pada bahasa dan segi-segi kehidupan lainnya. Perilaku yang mengingatkan kita pada perilaku suku terasing di pedalaman Nusantara. Dalam perkembanga jaman, perubahan struktur komponen masyarakat Osing berubah. Banyuwangi tidak lagi introvert terhadap penduduk pendatang. Mereka lebih membuka diri dan merasa ditantang untuk mengadakan perbaikan ekonomi atau pengetahuan, dengan jalan merantau ke kota-kota lain. Struktur komponen masyarakat pendatangpun bertambah dan menjadikan lapisan masyarakat Banyuwangi asli berkurang. Padahal kenyataannya masyarakat pendatang umumnya enggan belajar Bahasa Osing. Penyebabnya adalah penduduk pendatang membutuhkan waktu yang relatif lama untuk dapat berbahasa Osing dengan lancar, terutama dalam hal aksen serta ketepatan mengartikulasikan kosa kata. Ada pemeo yang berkembang di kalangan generasi muda, bahwa Bahasa Banyuwangi dianggap ’ndeso’ bila dibandingkan dengan ’Bahasa Jakarte’. Meraka merasa lebih bangga bila dapat berkata : ’Ehhh jumpe lagi ama gue, bang...!!!’ daripada harus berkata : ’Ehhh kecaruk maning ambi ison, kang ...!!!’ Sungguh tidak mengherankan bila kemudian banyak para Budayawan Banyuwangi mengkawatirkan akan eksistensinya. Sangat beralasan, karena hanya ada sekitar 53% yang merupakan penutur aktif Bahasa Osing. Hanya ada 10 (sepuluh) kecamatan di Banyuwangi yang penduduknya dominan bertutur dengan Bahasa Osing. Antara lain : Rogojampi, Giri, Genteng, Cluring, Songgon, Kabat, Srono dan Singgonjuruh. Sembilan kecamatan lainnya mulai terimbas Bahasa Jawa, Madura, atau Indonesia. Bahkan menurut Hasan Ali (bapak dari Emillia Contessa, seorang budayawan daerah), dari 175 desa di Banyuwangi (termasuk desa pemakai Bahasa Campuran Osing Jawa atau Osing Madura), hanya 126 yang berbahasa Osing. Penyusutan pemakai Bahasa Osing salah satunya disebabkan larena bahas tersebut sangat egaliter. Maksudnya dalam Bahasa Osing tidak mengenal ’unggah-ungguhing basa’ atau ’kromo’, padahal kenyataannya kelas-kelas sosial yang baru mulai terbentuk. Bahasa dan Orang Osing tidak mengenal hirarki atau status sosial. Kata ganti milik, kosa kata, atau kata panggilan untuk orang ke-2 (dua) dan ke-3 (tiga) tidak dibedakan antara satu dengan yang lainnya kendati berbeda status sosial. Ini menyebabkan beberapa orang Banyuwangi berusaha memperbaiki tutur kata bahasa Osing menjadi lebih halus, yaitu dengan mencampur-adukkan dengan Bahasa Jawa Halus untuk kesempatan-kesempatan tertentu yang bersifat formal. Penggunaan Bahasa Osing untuk percakapan ’ragam tinggi’ pada penggunaan keagamaan, pendidikan dan hubungan formal hanya sedikit dibandingkan dengan ragam rendah. Maksudnya untuk pergaulan yang dianggap memerlukan ’kesopanan’ dan ’unggah-ungguhing basa’ Orang Osing lebih menyukai memakai Bahasa jawa. Sedangkan di lingkungan keluarga campuran, Bahasa jawa dan Bahasa Indonesia lebih banyak digemari. Sementara disisi lain, bertahun-tahun para akademisi bahasa dan sastra daerah terjebak pada dikotomi : Apakah Bahasa Osing sekedar ragam dialek Bahasa Jawa ataukah bahasa tersendiri. Secara berkelakar seorang dosen saya (Kusnadi) pernah berpendapat bahwa : Sepanjang Bahasa Osing itu masih bisa dipahami oleh orang Jawa, maka tetap saja diklasifikasikan sebagai ’ DIALEK’ bukan ’BAHASA’. Secara guyonan pula saya timpali dengan berpandangan etnik, tentang adanya proses akulturasi budaya serta adanya persamaan sumber bahasa (Bahasa jawa Kuno) seraya saya komparasikan dengan Bahasa negeri Jiran yang mempunyai sumber yang sama dengan Bahasa Nasional kita, Bahasa Melayu. Bahkan saya mencoba membandingkan antara Bahasa Jawa Kuna dengan Bahasa Sansekerta, mengapa Bahasa Sansekerta tidak dikatakan sebagai Bahasa Jawa Kuna dialek Sansekerta ? Anehnya, pada Suku Tengger di Probolinggo mempunyai ’Jalur Budaya’ yang sama dengan masyarakat Banyuwangi. Ada beberapa kosa kata yang serupa dengan Bahasa Osing (Banyuwangi), sepertihalnya kata-2 : ’paran’, ’siro’, (sira, jika di Tengger), dan Isun. Namun ragam sosial tengger lebih tampak bila dibandingkan Bhasa Osing. Seperti isalnya Ragam Sosial Jenis Kelamin. Untuk kata ganti orang I, di Banyuwngi tidak dibedakan sebagaimana di Tengger. Ison (nison) artinya ’saya’ untuk wanita, dan reyang (eyang) artinya ’saya’ untuk laki-2 apabila di Tengger. Keduanya berfungsi sebagai subyek atau kata ganti milik. Tetapi berbeda di Banyuwangi, Ison tidak mengenal perbedaan baik laki-laki atau perempuan. Untuk menjawabnya memang perlu adanya prespektif yang lebih luas, tidak saja hanya berkutat pada leksikologi, fonologi, morfologi, sitaksis, atau semantik saja tetapi perlu juga pendekatan-2 lainnya seperti historis, psycologis atau politis. Walaupun menurut saya tidak terlalu penting status kebahasaaan tersebut, karena ada yang lebih penting lagi dari itu yaitu : kelestariannya !!. Sepertinya Bahasa Osing mulai diajarkan di sekolah2 dan telah memiliki Tata Bahasa dan Kamus Bahasa Osing, tapi apalah artinya bila dalam pergaulan sehari2 masih saja enggan untuk memakainya. Padahal menurut penelitian dahulu kala pada tahun 1930-an, penduduk beberapa desa seperti Biting dan Gemiri di Jember, Blendungan di Bondowoso serta Paiton di Situbondo diketahui juga sebagai penutur Bahasa Osing yang berdiam di luar wilayah Banyuwangi. Yang jelas Serat budaya penyangga anyaman kebudayaan akan meruyak dan tidak berfungsi menjadi pengikat kesatuan kebudayaan, bila masyarakatnya tidak lagi dapat menjaga, merawat dan melestarikannya. Kelendi Kang ?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar